Tag Archives: manajemen

Pajak bagi Pemula (2): Prosedur Perpajakan di Indonesia

Sebagian besar dari kita sudah pernah mendatangi rumah sakit. Di sana, biasanya kita menemukan bagan yang dipasang manajemen rumah sakit untuk memberikan informasi bagi pengunjung atau pasien mengenai proses pelayanan di rumah sakit tersebut; mulai dari mendaftarkan diri, menunggu dokter, mengambil obat, sampai membayar layanan rumah sakit.

Demikian juga dalam kantor polisi yang mengurus proses perijinan Surat Izin Mengemudi (SIM) atau surat-surat kendaraan lainnya. Biasanya di tempat tersebut akan terpampang bagan untuk menginformasikan tentang bagaimana cara mendapatkan berbagai surat perijinan yang mereka keluarkan.

Rumah sakit dan kantor polisi menyediakan bagan agar para pasien atau pemohon ijin tidak mengalami kebingungan dan bisa menyelesaikan kebutuhannya dengan lebih cepat.

Dengan semangat yang sama, kita akan menyusun bagan alur untuk prosedur pengurusan pajak di Indonesia. Berbagai proses dan peraturan pajak yang seringkali dianggap rumit oleh masyarakat bisa kita sederhanakan dalam satu alur besar yang memudahkan pemahaman.

Silakan lihat bagan alur berikut ini:

Keterangan:

  • Sesuai dengan namanya, yaitu bagan alur, maka bagan di atas bisa kita fahami dengan membaca secara berurutan, setiap langkah-langkah yang ada, dari langkah yang paling pertama sampai langkah yang paling terakhir.
  • “Subyek Pajak” adalah Orang pribadi atau Badan yang dapat dikenai kewajiban perpajakan.
  • “Wajib Pajak” adalah Orang pribadi atau Badan (Contoh Badan adalah PT, CV, Yayasan, Firma, Koperasi) yang mempunyai hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku.

Gambar 1 dari: http://theresaecho.com/2012/05/17/a-moderators-guide-for-dummies/

Tagged , , ,

Pajak bagi Pemula (1): Mengapa harus Membayar Pajak?

Suka atau tidak suka, undang-undang negara telah mewajibkan pengenaan pajak bagi kita. Inilah alasan paling lugas yang kita miliki mengapa kita harus membayar pajak.

Karena mewajibkan, undang-undang itu mengatur pula bagaimana tata cara kita memenuhi kewajiban pajak, termasuk ketentuan denda, sanksi, atau hukuman pidana, bagi kita yang tidak tertib administrasi atau yang secara sengaja tidak mau membayar pajak.

Apa saja yang dapat mendatangkan sanksi, denda atau hukuman pidana itu? Yaitu tindakan yang dengan sengaja:

  • tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP),
  • tidak menyampaikan laporan pajak dalam bentuk Surat Pemberitahuan Pajak (SPT)
  • menyampaikan SPT yang isinya tidak benar atau tidak lengkap,
  • memperlihatkan pembukuan atau dokumen pendukung pajak yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar (tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya).

Mereka yang melakukan tindak pidana itu, dan menimbulkan kerugian bagi pendapatan pajak negara, akan dipidana dengan penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun. Mereka juga akan didenda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak yang tidak dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak yang tidak dibayar.

Berani tidak membayar pajak berarti berani menerima risiko dipidanakan, didenda dan dipenjara. Tentu saja itu bukan pilihan yang baik. Pilihan yang lebih menguntungkan adalah menjadi warga negara yang taat dengan mematuhi segala kewajiban pajak yang telah diatur dalam undang-undang dan peraturan pendukungnya.

Gambar dari: http://globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=29109

Tagged , , ,

Menjauhi Lookism dalam Perusahaan

Beberapa penelitian sebelumnya sudah mengungkap temuan bahwa para pekerja dengan wajah yang lebih tampan atau cantik cenderung memiliki karier yang lebih baik di tempat kerjanya (seperti temuan Daniel S Hamermesh dalam buku “Beauty Pays” atau Mikki Hebl dan Juan Madera dalam Journal of Applied Phsycology) . Si tampan dan si cantik pula yang akan diprioritaskan mendapat jenis-jenis pekerjaan tertentu, seperti bagian pemasaran, penjualan, layanan pelanggan, atau fungsi-fungsi lain yang menuntut interaksi yang intens dengan pihak luar.

Tren dan fenomena ini berlangsung begitu saja layaknya sebuah kelaziman yang diterima oleh masyarakat umum. Dengan anggapan bahwa pelanggan akan lebih senang mendapatkan pelayanan dari pegawai yang “enak dilihat”, maka posisi ini pun menjadi hak orang-orang yang berwajah tampan/cantik.

Sampai kemudian seorang Ibu yang dianggap berwajah tidak beruntung mengagetkan masyarakat Amerika Serikat pada akhir tahun 2011 lalu. Shierly Ivey, 61 tahun, menggugat mantan atasannya di Departemen Urusan Konsumen dan Peraturan, Amerika Serikat, ke pengadilan atas tuduhan sikap diskriminatif di tempat kerja. Atasannya terlalu sering menghardiknya dengan kalimat “aku akan lebih menyukaimu jika kamu lebih cantik”.

Keberanian Shierly Ivey ini mengundang kemunculan gugatan-gugatan lain di Amerika Serikat untuk jenis kasus yang sama. “Lookism” demikian orang Amerika Serikat menyebutnya untuk tindakan diskriminatif karena perbedaan wajah.

Lookism” dianggap sebagai jenis diskrimanasi baru. Tetapi, perusahaan-perusahaan biasanya memiliki alasan yang juga meyakinkan untuk memutuskan calon pegawai (dengan wajah tampan/cantik) yang akan direkrutnya.

Perusahaan jasa, seperti konsultan-konsultan bisnis, memiliki dalih bahwa bisnis mereka akan sangat ditentukan oleh kepuasan pelanggan atas konsultan-konsultan yang mereka kirim. Kepuasan itu biasanya tidak melulu dipicu dari kompetensi tetapi juga penampilan konsultan yang membuat nyaman para kliennya.

Para tenaga penjual juga diyakini akan lebih sukses mendatangkan pelanggan bagi perusahaan jika mereka memiliki penampilan yang menarik. Karena perusahaan sangat berkepentingan dengan produktivitas tenaga penjualnya, maka memilih tenaga penjual yang tampan/cantik dianggap merupakan hak perusahaan, sebagai perpanjangan hak mereka untuk mendapatkan produktivitas yang lebih tinggi dari tenaga penjual.

Argumentasi yang dilontarkan di atas terkesan sangat kuat. Tetapi benarkah argumentasi ini bisa diterima?

Lagi-lagi, dengan argumentasi William H Shaw, dalam bukunya Ethics at Work: Basic Reading in Business Ethic (2003), kita dapat dengan menolak pendapat di atas. perusahaan selalu sulit menjawab pertanyaan “Produktivitas tingkat berapa yang ingin dicapai?”, “Produktivitas minimal atau optimal?”, “Bagaimana mengukur produktivitas optimal itu?”. Karena sulitnya mendefinisikan produktivitas optimal, dalam praktiknya, kontrak hubungan tenaga kerja hanya menyebutkan kinerja minimal, karena ini pendekatan yang paling mungkin untuk diambil.

Pertanyaannya, bagaimana jika yang tidak ganteng dan tidak cantik itu ternyata mampu memenuhi produktivitas minimal yang diminta atau bahkan melebihi produktivitas rekan-rekan kerja yang lainnya?. Jika itu terjadi, maka semua argumentasi pendukung lookism adalah angan-angan saja, yang sayangnya juga sangat diskriminatif.

Atas dasar inilah, memilih karyawan atas dasar kegantengan atau kecantikan seharusnya tidak bisa diterima dalam pertimbangan manajemen perusahaan yang sehat.

Gambar dari: http://beling.net/articles/about/Lookism

Tagged , ,

Internal Control: Menuju Tujuan Perusahaan

Committe of Sponsoring Organizations of the Treadway Commission (COSO), lembaga di Amerika Serikat yang banyak mengkaji mengenai tata kelola perusahaan, etika bisnis, manajemen risiko, dll, mendefinisikan pengendalian internal sebagai sebuah proses yang diciptakan oleh Komisaris, Direksi, Manajemen lainnya, atau keseluruhan personel perusahaan untuk memastikan pencapaian tujuan perusahaan (www.coso.org).

Proses pencapaian tujuan perusahaan (dalam berbagai tingkatan) sendiri tidak akan selalu berjalan mulus. Tujuan-tujuan perusahaan atau organisasi, yang sudah ditetapkan seringkali dihadapkan pada  tantangan, gangguan, kesulitan, kecurangan, dan bahkan kesempatan itu sendiri.

Berangkat dari pemahaman ini, perusahaan memerlukan pengendalian internal yang memadai untuk memastikan bahwa semua kondisi itu tetap bisa dikendalikan, dikelola dan bahkan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk mencapai tujuan atau kepentingan perusahaan.

Sebagai contoh:

KEPENTINGAN/TUJUAN PERUSAHAAN

TANTANGAN (RISIKO)

PENGENDALIAN INTERNAL

YANG DIPERLUKAN

Sumber Daya Manusia (Pegawai/Karyawan) bekerja dengan efektif dan loyal bagi perusahaan –      Pembajakan tenaga kerja oleh perusahaan lain/perusahaan pesaing.-      Tenaga kerja bekerja secara malas-malasan dan tidak efektif.  –      Melakukan evaluasi rutin atas skema benefit perusahaan agar senantiasa kompetitif dengan kondisi pasar tenaga kerja.-      Melakukan evaluasi kinerja SDM secara periodik untuk mengapresiasi kinerja SDM di perusahaan. 
Hasil Produksi perusahaan meningkat sebesar 10% pada tahun 2011 –      Mesin-mesin mengalami kerusakan pada jam produksi.-      Tenaga kerja produksi tidak efektif dalam menjalankan tanggung jawabnya.  –      Membuat prosedur perawatan mesin secara rutin dengan daftar perawatan yang sudah standar.-      Melakukan evaluasi secara bulanan mengenai jumlah dan kualitas produksi yang telah dihasilkan, beserta kendala-kendala terkait.-      Membangun sistem informasi dan komunikasi yang lancar kepada semua bagian perusahaan untuk menginformasikan hasil produksi yang sudah tercapai dan target yang masih harus direalisasikan.

 

Keselamatan tenaga kerja produksi terus dijaga dengan target “kecelakaan nihil (zero accident)” pada tahun 2011 –      Tenaga kerja tidak memahami prosedur keselamatan kerja dengan benar.-      Kondisi tenaga kerja tidak prima untuk bekerja.-      Peralatan kerja atau mesin-mesin produksi tidak prima mendukung keselamatan kerja.

 

–      Perusahaan mengadakan pelatihan rutin dan berulang-ulang mengenai prosedur keselamatan kerja .-      Perusahaan memasang papan informasi mengenai pentingnya keselamatan kerja.-      Perusahaan membuat kebijakan tentang pemeriksaan kesehatan rutin untuk tenaga kerja.

–      Alat-alat kerja dan mesin-mesin produksi dilengkapi dengan peralatan, perangkat lunak dan atau sistem yang menciptakan keselamatan kerja.

 

Dari contoh di atas, terlihat bahwa pengendalian internal adalah cara yang bisa dilakukan oleh manajemen dalam mengelola tantangan, gangguan, kesulitan, dll, untuk menjaga kepentingan organisasi atau mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.

Manajemen, pada setiap tingkatan, harus menyadari bahwa pengendalian internal menjadi salah satu aspek penting dalam pengelolaan perusahaan, terutama untuk mengawal pencapaian tujuan perusahaan. Dalam pelaksanaannya, manajemen harus mampu mengidentifikasi dengan lengkap: tujuan perusahaan, tantangan (risiko) apa saja yang dapat menghambat pencapaian tujuan tersebut, dan kemudian menentukan pengendalian internal yang tepat untuk mengatasinya.

Penerapan pengendalian internal ini dimulai dari aktivitas bisnis yang memiliki risiko terbesar dan tetap mengedepankan aspek manfaat dan biaya, serta mempertimbangkan ketersediaan sumber daya perusahaan. (end)

Artikel ini dipublikasikan di Tabloid Serasi, PT Arutmin Indonesia

Gambar dari: http://toolkit.smallbiz.nsw.gov.au/part/1/1/3

Tagged , , , ,

Internal Control: Sebuah Pengantar

Kebutuhan akan pengendalian internal telah dimiliki oleh manusia atau organisasi pada jenis kegiatan yang  paling sederhana sekalipun, seperti ayah/ibu membuat aturan kedisiplinan keluarga agar anak-anaknya rajin belajar dan meraih prestasi di sekolah.

Pada kegiatan usaha, pedagang bakso yang memasak dan menjual sendiri dagangan baksonya, berkeliling di jalan dan perumahan-perumahan, memerlukan cara yang tepat agar dia bisa tahu seberapa banyak keuntungannya. Oleh karena itu dia bisa menyiapkan sebuah buku tulis untuk mencatat setiap pengeluaran biaya usaha bakso nya itu. Pada skala ini, catatan-catatan yang dimiliki pedagang bakso keliling itu adalah salah satu bentuk pengendalian internal yang dia miliki yaitu agar dia memiliki informasi biaya produksi yang lengkap dan melakukan evaluasi apakah biaya produksi telah dikelola secara efektif dan efisien.

Gerobak bakso yang dia miliki untuk berjualan keliling adalah salah satu aset usaha yang utama, oleh karena itu pedagang tersebut akan selalu membersihkan, menyimpan, dan menggembok gerobaknya dengan baik setelah selesai berjualan untuk menghindari kehilangan. Usaha pedagang bakso ini untuk menyimpan dan menggembok gerobaknya adalah bentuk pengendalian internal yang dia ciptakan untuk mengamankan aset usahanya.

Pada skala yang lebih besar, para Direksi perusahaan mendapat tanggung jawab memimpin perusahaan untuk mencapai tujuan yang diamanahkan pemegang saham. Berbagai upaya dilakukan oleh Direksi dalam bentuk mengarahkan, menginstruksikan, mengambil keputusan-keputusan strategis, dan termasuk pula mengendalikan manajemen perusahaan. Pengendalian (controlling) menjadi salah satu aspek proses manajemen yang bisa dilakukan oleh direksi dengan berbagai cara, misalnya:

  • Menyusun struktur organisasi perusahaan yang memisahkan tanggung jawab antara fungsi pembelian dan fungsi pembayaran untuk menghindarkan konflik kepentingan.
  • Mengevaluasi kinerja Manajer Penjualan setiap periode untuk memastikan bahwa target penjualan operasi sedang berusaha atau telah dicapai oleh Manajer terkait.
  • Meminta laporan-laporan mengenai berbagai hal; hasil produksi, data dan kondisi sumber daya manusia, data stock, dll; yang digunakan untuk mengevaluasi informasi terkait dan mengambil keputusan strategis yang diperlukan bagi pencapaian tujuan perusahaan.

Tidak hanya Direksi, manajer-manajer dalam perusahaan juga dihadapkan pada tanggung jawab untuk mengelola fungsi divisi atau departemen yang dia pimpin, staff-staff yang membantunya, target yang dibebankan, dll. Para manajer ini memerlukan salah satu proses yang disebut dengan pengendalian internal juga, yaitu untuk memastikan bahwa semua proses yang ada di bawah tanggung jawabnya memang berjalan untuk mencapai tujuan perusahaan.

Misalnya, seorang Manajer Pembelian (Procurement Manager) mendapat tanggung jawab antara lain:

  • Mendapatkan material produksi yang berkualitas dan tepat waktu bagi perusahaan.
  • Membeli barang/jasa bagi perusahaan dengan harga yang kompetitif.

Untuk mewujudkan kepentingan perusahaan mengenai material yang berkualitas, tepat waktu dan harga yang kompetitif, Seorang Manajer Pembelian antara lain membuat Prosedur Tertulis (Standard Operating Procedure/SOP) tentang proses pembelian yang efektif dan efisien bagi perusahaan, melatih para staffnya mengenai proses pelelangan, membangun sistem pembelian berbasis elektronik yang mempercepat proses pembelian, membangun prosedur pelelangan yang terbuka, dll.

Contoh lainnya, seorang Manajer Keuangan (atau Manajer SDM) bertanggung jawab memonitor uang muka perjalanan dinas yang diambil oleh para karyawan, sehingga penggunaan uang muka benar-benar sesuai dengan tujuan dan kebijakan perusahaan. Untuk tujuan ini, Manajer Keuangan (atau Manajer SDM) membuat kebijakan yang mengharuskan para karyawan membuat laporan biaya perjalanan dan melampirkan dokumen pendukungnya. Manajer Keuangan (atau Manajer SDM) juga akan memonitor secara rutin agar uang muka perjalanan dinas segera dilaporkan pertanggungjawabannya setelah kegiatan/perjalanan dinas selesai dilakukan.

Contoh-contoh di atas adalah menggambarkan berbagai pihak, yaitu: pemilik usaha, direksi, manager, dan bahkan keluarga berusaha menciptakan cara untuk menjaga kepentingan dan tujuan yang mereka tetapkan. Pengendalian internal adalah aktivitas yang mereka ambil untuk memastikan tercapainya kepentingan atau tujuan mereka tersebut.(end)

Artikel ini dipublikasikan di Tabloid Serasi, PT Arutmin Indonesia

Gambar dari: http://www.the-alternative-accountant.com/gifts-for-auditors.html

Tagged , , ,