Pajak bagi Pemula (1): Mengapa harus Membayar Pajak?

Suka atau tidak suka, undang-undang negara telah mewajibkan pengenaan pajak bagi kita. Inilah alasan paling lugas yang kita miliki mengapa kita harus membayar pajak.

Karena mewajibkan, undang-undang itu mengatur pula bagaimana tata cara kita memenuhi kewajiban pajak, termasuk ketentuan denda, sanksi, atau hukuman pidana, bagi kita yang tidak tertib administrasi atau yang secara sengaja tidak mau membayar pajak.

Apa saja yang dapat mendatangkan sanksi, denda atau hukuman pidana itu? Yaitu tindakan yang dengan sengaja:

  • tidak mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP),
  • tidak menyampaikan laporan pajak dalam bentuk Surat Pemberitahuan Pajak (SPT)
  • menyampaikan SPT yang isinya tidak benar atau tidak lengkap,
  • memperlihatkan pembukuan atau dokumen pendukung pajak yang palsu atau dipalsukan seolah-olah benar (tidak menggambarkan keadaan yang sebenarnya).

Mereka yang melakukan tindak pidana itu, dan menimbulkan kerugian bagi pendapatan pajak negara, akan dipidana dengan penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6 (enam) tahun. Mereka juga akan didenda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak yang tidak dibayar dan paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak yang tidak dibayar.

Berani tidak membayar pajak berarti berani menerima risiko dipidanakan, didenda dan dipenjara. Tentu saja itu bukan pilihan yang baik. Pilihan yang lebih menguntungkan adalah menjadi warga negara yang taat dengan mematuhi segala kewajiban pajak yang telah diatur dalam undang-undang dan peraturan pendukungnya.

Gambar dari: http://globalresearch.ca/index.php?context=va&aid=29109

Tagged , , ,

Internal Control: Jembatan Karyawan dan Usaha Sampingan

Soni adalah senior saya di FEUI. Beliau 3 tahun di atas saya. Karena sama-sama bekerja di daerah Kuningan, kami sering berjumpa di stasiun atau dalam kereta.

Mas Soni, demikian saya memanggilnya, sekarang seorang manajer keuangan (atau mungkin di atasnya) di sebuah perusahaan farmasi atau produk gizi (saya lupa tepatnya). Tapi yang membuat saya sangat tertarik pada suatu kesempatan adalah cerita beliau mengelola bisnis perikanan lele di daerah Bojong (Bogor).

Mas Soni memang sedang mengembangkan peternakan lele yang cukup serius, di atas lahan sekian ribu meter persegi dengan karyawan 3 orang.

Pertanyaanya, bagaimana beliau mengelola bisnis dan pada saat yang sama masih aktif sebagai manajer di perusahaan? Kenyataan lainnya, beliau tinggal di Depok dan hanya bisa seminggu sekali mengunjungi peternakan lelenya.

Dengan keadaan demikian, risiko yang paling mungkin dihadapi Mas Soni dengan usaha sampingannya adalah:

  • Kinerja karyawan operasional yang tidak efektif, sehingga mereka gagal pula menjalankan peternakan lele ini untuk pemiliknya, dan
  • Karyawan yang tidak jujur, alih-alih memberikan dukungan bagi Mas Soni tetapi justru memanfaatkan sumber daya peternakan untuk keuntungan pribadinya.

Saya rasa risiko ini sangat lekat dengan usaha-usaha sampingan lainnya, dan mungkin juga telah mencegah banyak orang untuk memulai usaha sampingan yang mereka cita-citakan.

Dari ceritanya, Mas Soni merekrut karyawan berdasarkan referensi dari orang yang dikenalnya dengan baik. Menurutnya, diatas semua hal, kepercayaan dan integritas adalah solusi utama dan pertama bagi pengelolaan bisnis, apalagi sampingan seperti bisnisnya.

Tapi beliau juga faham, meletakkan kepercayaan tanpa pengendalian adalah tindakan yang gegabah. Karenanya, Mas Soni menerapkan aktivitas-aktivitas pengendalian yang penting dalam pengelolaan bisnis ini:

  • Menetapkan standar umum (yang bisa dipelajari dari pakar peternakan, pelatihan-pelatihan, dan buku-buku panduan) tentang beberapa rasio penting, seperti konsumsi pakan, hasil produksi, berat dan ukuran ikan, atau rasio-rasio kinerja lainnya. Standar ini akan menjadi acuan evaluasi atas laporan kinerja yang disampaikan karyawannya.
  • Membuat template pelaporan dan kemudian meminta karyawannya menyampaikan laporan-laporan yang memungkinkan data kinerja dan rasio itu dapat ditelaah.
  • Melakukan observasi fisik secara periodik.
  • Menyusun sistem penggajian berbasis kinerja. Bonus bagi karyawan akan bertambah jika ada kenaikan produksi atau kinerja yang dicapai oleh peternakan.

Walaupun saya tidak membaca laporan keuangannya dengan lengkap, saya yakin peternakannya berjalan dengan baik. Sejauh diskusi pagi itu, Mas Soni menceritakan itu semua dengan antusias.

Memahami dan menerapkan pengendalian internal dalam bisnis, seperti yang dilakukan Mas Soni, akan membantu para pemilik atau pengelola bisnis tetap terarah pada tujuan yang hendak dicapainya, utamanya dalam mengantisipasi risiko-risiko buruk yang mengancam tujuan perusahaan. (end).

gambar dari: http://www.boards.ie/vbulletin/showthread.php?t=2056004632&page=11

Tagged , ,

Auditor Internal dan Risiko Non-Pasar

Pada pertengahan 2010 lalu, PT. Sinar Mas Agro Resources and Technology (SMART), perusahaan perkebunan sawit yang dimiliki oleh Kelompok Usaha Sinar Mas, mendapat kabar yang mengagetkan karena Unilever dan Nestle tiba-tiba menghentikan pesanan CPOSawit yang diproduksi oleh SMART. Padahal, selama ini Unilever dan Nestle adalah pembeli besar CPOsawit yang diproduksi oleh SMART. Kontrak Unilever dengan SMART saja mencapai 20 juta poundsterling per tahunnya.

Penarikan diri Unilever dan Nestle ini dipicu oleh laporan yang dikeluarkan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional “Greenpeace”, mengenai aktivitas perusakan hutan di Indonesia. Greenpeace menuduh SMART telah terlibat atas pembukaan areal hutan secara besar-besaran dan tidak bertanggung jawab. SMART juga dituduh merusak lahan gambut dan berbagai kegiatan ilegal atas lingkungan lainnya.

Laporan Greenpeace tentang perusakan hutan di Indonesia ini tidak hanya menyasar perusahaan-perusahaan sawit seperti SMART saja. Beberapa perusahaan pulp dan kertas juga mendapat tuduhan yang sama dari Greenpeace. Selain Unilever dan Nestle yang membatalkan pembelian ke SMART,UPM, perusahaan pulp dan kertas yang berbasis di Finlandia mmbatalkan pemesanannya senilai 30 jutaEURO di Asia Pacific Resources International Holding Limited (APRIL), perusahaan kertas besar di Indonesia.

Dari contoh di atas, Auditor Internal tidak boleh hanya fokus pada proses bisnis dalam internal perusahaan ataupun dalam lingkungan pasarnya saja (misalnya yang berkaitan dengan pemasok, pembeli, regulator). Perkembangan lingkungan non-pasar seperti pada kasus SMART di atas juga merupakan ancaman yang mungkin justru lebih berbahaya dibandingkan masalah internal seperti karyawan yang tidak produktif, atau masalah pasar seperti pemasok yang melewati tenggat pengiriman material.

Dalam rencana audit dan pelaksanaannya, Auditor Internal juga harus memperhatika risiko-risiko non-pasar ini. (end)

Tagged ,

Auditor Internal dan Strategi Ekspansi Perusahaan (2)

Pengertian Emerging Markets dan Peluangnya

Emerging Market didefinisikan sebagai pasar yang sedang bertumbuh, yang dicirikan dengan ukuran pasar yang berkembang dan daya beli masyarakat yang cenderung meningkat. Secara umum, emerging market banyak terjadi pada negara-negara berkembang (developing countries).

Pada dasarnya ada 2 (dua) peluang yang ditawarkan oleh emerging market bagi perusahaan, yang pertama yaitu sebagai pemasok barang-barang untuk diekspor ke negara lain, dan yang kedua sebagai pasar untuk memasarkan produk-produk perusahaan itu sendiri.

Dalam emerging market, terdapat pula potensi untuk memproduksi barang dan kemudian diekspor ke negara lain. Wal-Mart, Liz Claiborne, Jones, adalah perusahaan-perusahaan yang banyak memesan produk garmen di Indonesia untuk kemudian dijual di pasar negara lain. Ini bisa terjadi karena industri garmen di Indonesia dapat beroperasi lebih murah dengan kualitas yang lebih baik. Ini adalah contoh bagaimana emerging markets seperti Indonesia juga dapat menjadi pemasok bagi pasar lain.

Peluang yang kedua adalah emerging market sebagai pasar produk perusahaan. Dengan ukuran pasar yang berkembang dan daya beli masyarakat yang cenderung meningkat, maka perusahaan dapat meletakkan harapan penjualan pada pasar yang sedang bertumbuh ini.

Risiko-Risiko dalam Lingkungan Emerging Markets

Emerging markets sering dinisbatkan dalam negara-negara yang sedang berkembang (developing countries). Dan biasanya mereka memiliki karakteristik lingkungan hostile, yang kurang mendukung bagi perkembangan bisnis.

Menurut Baron (2010) dalam Business and Its Environment, Risiko-risiko dalam lingkungan emerging markets dapat meliputi:

  • Kudeta penguasa: Kudeta terhadap penguasa sering terjadi di negara-negara berkembang dengan sistem politik yang belum stabil. Kudeta ini mengakibatkan ketidakpastian bagi lingkungan perusahaan.
  • Revolusi demokrasi: Revolusi juga dapat terjadi di negara-negara berkembang, yang mengakibatkan perubahan fundamental terhadap tatanan pemerintah negara tersebut. Isu-isu yang sering diusung dalam revolusi antara lain adalah isu nasionalisme dan nasionalisasi perusahaan asing.
  • Peraturan yang tidak menentu: Kepastian peraturan sering menjadi isu juga dalam negara berkembang. Peraturan sering berganti siring dengan pergantian rezim. Ironisnya, seringkali peraturan yang ditetapkan juga tidak memberi kepastian hukum bagi dunia usaha.
  • Kontrol harga: Pemerintah di negara berkembang sering menerapkan pengendalian harga di pasar, yang dapat berimbas secara langsung dan tidak langsung bagi dunia usaha. SPBU Shell, Total, dan Petronas yang baru berdiri di Indonesia masih belum mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan. Hal ini disebabkan karena pemerintah Indonesia masih memberikan subsidi atas premium Pertamina yang menjaga harga premium pada level tertentu. Sedangkan pada saat yang, harga pertamax yang dijual Shell, Total, dan Petronas, harus mengikuti harga pasar dunia.
  • Nasionalisasi: Isu nasionalisasi perusahaan swasta sering dijadikan komoditas politik di negara-negara berkembang. Isu ini juga tidak menciptakan lingkungan bisnis yang kondusif bagi perusahaan.
  • Korupsi: Korupsi menjadi penyakit akut di negara berkembang. Korupsi mengakibatkan biaya ekonomi tinggi bagi perusahaan. Korupsi juga mengakibatkan persaingan usaha yang tidak sehat.
  • Konflik etnik dan agama: Negara berkembang juga mengalami masalah potensi konflik sosial karena isu etnik maupun agama. Konflik etnis dan agama jelas tidak memberikan iklim usaha yang baik.

Menurut Sheila M. Puffer and Daniel J. McCarthy (2001), ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh manajemen untuk memperkuat perusahaan, yaitu:

  • Bekerja dekat dengan pemerintah setempat untuk membangun reputasi perusahaan yang kuat.

Di lingkungan yang hostile, pengusaha sering dicurigai oleh khalayak umum, dan ini merugikan bagi reputasi perusahaan. Dengan bekerja erat dengan pemerintah, perusahaan diharapkan memberikan pesan kepada publik bahwa perusahaan juga sedang berusaha bagi kepentingan publik.

Bekerja sama dengan pemerintah diharapkan juga memberikan kepastian politik yang lebih kuat ditengah-tengah lingkungan politik yang tidak pasti.

  • Mendemonstrasikan etika bisnis yang kuat.

Etika bisnis akan membangkitkan dukungan lingkungan bisnis yang lebih positif bagi perusahaan.

  • Membangun kerjasama antar pengusaha.

Kerjasama antar perusahaan akan memberikan kekuatan bagi industri untuk bertahan dalam lingkungan yang hostile.

  • Bersikap waspada terhadap perubahan lingkungan yang dapat terjadi dengan cepat.

Perusahaan harus menetapkan visi yang kuat bagi operasionalnya. Tetapi pada saat yang sama, perusahaan harus mampu melihat target-target jangka pendek untuk mengadaptasi lingkungan yang cepat berubah sebagaimana yang menjadi karakter lingkungan yang hostile.

Teori-teori atau hipotesa di atas dapat menjadi pengetahuan bagi Auditor Internal agar dapat memberikan rekomendasi yang memadai tentang perbaikan-perbaikan apa yang harus diambil manajemen untuk memastikan tujuan ekspansinya dapat tercapai. (end)

Tagged ,

Auditor Internal dan Strategi Ekspansi Perusahaan

Auditor Internal tidak jarang diidentikkan dengan hal-hal tentang SOP, pengendalian, dan pelaksanaan seperangkat aturan yang hendak diperiksa. Identifikasi itu benar, tetapi tidak sepenuhnya lengkap dalam menjelaskan peran audit internal.

Di atas semua lingkup aktivitas yang diambilnya, Auditor Internal sebenarnya hendak memastikan pencapaian tujuan perusahaan dapat terkelola dengan efektif dan efisien. Termasuk jika perusahaan sedang mengambil strategi ekspansi ke pasar-pasar berkembang, Auditor Internal harus memberikan masukan-masukan berharga terhadap potensi risiko, dan kelemahan-kelemahan yang harus diantisipasi oleh manajemen dalam pasar berkembang tersebut.

Tesco adalah perusahaan retailer terbesar di Inggris dengan memegang 30% pangsa pasar retailer. Sebagai perusahaan yang ambisiun, usaha Tesco untuk menumbuhbesarkan perusahaan tidak hanya berhenti dengan menguasai pasar Inggris saja. Tesco juga membuka toko-toko di luar negeri sehingga sampai tahun 2008 Tesco berada pada retailer ke-6 terbesar di dunia. Sampai tahun 2007, Tesco memiliki 1.988 toko di Inggris dan 1.271 toko lain yang tersebar di 13 negara di dunia.

Tentu saja selain Tesco, terdapat banyak perusahaan yang sudah berekspansi atau bahkan meninggalkan pasar domestiknya menuju pasar luar yang lebih menjanjikan. Bukti yang paling jelas didemonstrasikan oleh membanjirnya produk-produk asing di suatu negara, seperti produk-produk Cina yang membanjiri Indonesia, atau produk-produk teknologi Amerika Serikat (seperti Apple, Micrsosoft) dan Jepang (seperti Sony, Sharp) yang terjual melintas batas di berbagai negara.

Uniknya, ekspansi operasi ke pasar luar ini tidak hanya terjadi pada perusahaan-perusahaan penjual produk. Perusahaan-perusahaan penjual jasa juga sudah mulai menawarkan jasanya di pasar luar yang dipandang masih potensial. Sekarang ini, kantor akuntan asing juga sudah menjamur di Indonesia, seperti PricewaterhouseCoopers, Ernst and Young, KPMG, Delloitte, Mazars, dll. Keberadaan mereka di Indonesia adalah contoh bagaimana perusahaan jasa di dunia juga tertarik untuk ekpansi ke pasar lain.

Apa yang dilakukan Tesco, Apple, Microsoft, Sony, Sharp, dan berbagai kantor akuntan asing, adalah contoh bagaimana perusahaan-perusahaan juga mengincar pasar-pasar bertumbuh (emerging market). Dan fenomena ini akan terus berkembang seiring dengan sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka dan mengglobal.

Auditor Internal harus memahami secara konseptual tentang emerging market, peluang dan risiko-risiko dalamnya, sehingga mereka mampu memberikan masukan bernilai bagi manajemen perusahaan yang hendak ekspansi ke pasar berkembang. (berlanjut pada tulisan ke-2)

Tagged ,

Ide “Process Optimization” Perusahaan dan Solusi Kemacetan

Rumah kami dikelilingi oleh titik kemacetan yang tidak sedikit. Pun pemerintah telah melebarkan jalan utama (margonda raya) sampai menjadi 6 jalur, kemacetan hanya berpindah saja ke titik yang lain atau malah menciptakan titik kemacetan baru. Pada banyak momen, kemacetan semakin membuat rakyat frustasi saja. Kualitas hidup seperti apa yang diharapkan dalam kota yang kemacetan menanti dalam setiap injakan gas kendaraan?.

Adakah negara kita akan berakhir dengan predikat negara yang gagal mengurus kemacetan saja?. Dalam sebuah perjalanan bersama istri, seperti biasa kami sering tebak-tebakan “Hi cinta, what will you do to reduce traffic jam if you are the mayor of this city?”, dan seringnya memang saya yang selalu mengisi diskusi itu dan istri selalu menjadi pendengar yang baik.

Dalam mengelola perusahaan, kita mengenal suatu konsep yang biasa disebut “Process Optimisation” yang dalam gagasan sederhana ini seharusnya bisa juga diaplikasikan untuk mengurangi kemacetan kota. Process Optimisation adalah upaya untuk mengoptimalkan process yang ada untuk memberi manfaat (sekecil apapun bagi perusahaan). Seringkali ide-ide gila memberi manfaat yang diluar dugaan, dalam sejarah process optimisation ini muncul lah Just in Time concept, yang sederhananya adalah bahan baku baru didatangkan sesaat ketika dibutuhkan dalam input produksi, dengan cara ini perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya gudang, biaya perawatan bahan baku, biaya kehilangan stock, dll.

Ada pula concept Total Quality Management, dimana dengan memastikan semua proses berkualitas maka diharapkan perusahaan dapat meningkatkan keuntungan melalui saving biaya perbaikan, biaya complain, biaya garansi, dll.

Dua contoh di atas (JIT dan TQM) adalah konsep sederhana yang luar biasa. Kata kuncinya adalah sederhana.

Lalu bagaimana diaplikasikan ke manajemen transportasi? Ada cara-cara sederhana yang barangkali akan memberikan kontribusi banyak untuk mengurangi kemacetan, misalnya:

  • Re-evaluasi kendaraan-kendaraan umum dengan tujuan kendaraan yang tidak layak jalan dilarang jalan, kendaraan yang tidak memiliki surat juga harus didata dan dilarang, termasuk kendaraan yang peralatannya tidak lengkap
  • Semua sopir (baik angkutan maupun pribadi) ditegakkan SIM nya. Para pengendara tanpa SIM harus ditilang.
  • Ijin kendaraan umum baru harus diberikan secara selektif hanya untuk mengganti kendaraan umum yang sudah tidak laik jalan. Pemberian ijin ini terlebih dahulu juga harus didasari pada evaluasi berapa level jumlah angkutan umum yang dipandang mencukupi kebutuhan rakyat. Sehingga angkutan umum tetap siap dan cukup melayani tetapi pada saat yang sama tidak oversupplied.

Tiga cara sederhana dan murah untuk mengurangi kemacetan. Diilhami dari process optimisation yang telah berhasil menguntungkan berbagai perusahaan di dunia.

Fostering Knowledge Sharing Culture

“There is nothing new under the sun” becomes a popular proverb among business consultants. The proverb describes that we actually don’t need to much invest resources (e.g. time, cost, person, etc) in trial and error process during finding out the ways or methods to solving business problems due to the fact that somebody out there maybe have ever done it. What the business consultants have to do first is look for the solutions from variety of resources, such as: colleagues in the same office or in other affiliated firm offices who have ever conducted the similar assignments, working papers of previous similar assignment, experts books, academic journal, etc.

There are reasons not to re-invent “the wheel”. In common assignments, the business consultants are always targeted to execute and complete the works as soon as possible without sacrifice the quality of service. Learning from sources who share their knowledge and experiences will save much time, and then the available remaining time can be utilized to improve or add more value the delivered work. What the great is that frequently the advance knowledge from other affiliated consulting offices at overseas (Of course from developed country such as: US, England, Australia, etc) are utilized or sold at developing countries, like Indonesia, hence a transfer of advance knowledge is being a benefit in this knowledge sharing process.

The prominent accounting and business consulting firm, PricewaterhouseCoopers (PwC), is really aware with the power of knowledge sharing. The firm developed a portal web to consolidate the knowledge spread among its hundreds of firm offices around the world. Consultants from any offices are encouraged to upload their work, research, sample of marketing materials, proposal, etc, into the web portal, and then all of those documents are available to be downloaded by other consultants. Through this web portal, the PwC Consultants from Indonesia are easily able to learn the methods invented by their colleagues in other offices. The portal then becomes powerful media to facilitate knowledge and product improvements in PwC Indonesia. Commonly, accounting and consulting firms which have affiliation with other firms at overseas will have such knowledge sharing database.

Our people (refers to Indonesia people) must learn from what other groups, like above consulting firm, have done in appreciating and managing the knowledge sharing. Our current national profiles have completely reflected that we need development of knowledge, and as explained by our proverb above “there is nothing new under the sun”, we don’t need to invent the things by ourselves since some body has ever made it. What we just need actually is the sources where we are able to get desired knowledge and then focus on our efforts to improve those existing knowledge.

In Indonesia, many people are not as lucky as internationally affiliated consultants, therefore some breakthrough actions should be started from the people who “have” the knowledge in order to contribute in knowledge improvement for our communities. Here are the proposals:

Open the Library of Universities or Schools for Public Access
Various books are available in universities’ and schools’ library. Especially in university’s library, we will found a large number of books from any fields due to the fact that many universities have various faculties, e.g. politics, economics, law, health, engineering, etc. It is our understanding that the books provided by the university administrator to facilitate its students. However, let us imagine the impact of pioneering the knowledge sharing through opening those libraries for public access, either for free or for charge, maybe in weekend when the libraries are not utilized by its owners.
By little arrangement on its cost necessity, membership policy, security of university’s asset, etc, this idea will no be difficult to execute. It’s true that there will be extra efforts from university to realize this idea, but that is why university is established, “To share the knowledge”.

Optimizing the Information Technology (IT) to Develop Knowledge Database
Some Indonesia web portals, e.g. http://www.hukumonline.com and http://www.ortax.org, have been pioneering in managing the knowledge sharing through utilization of web technology. Hukumonline.com administrator (again, it is private and non-government initiative) put their efforts to develop and update a database of laws and regulations which have ever been issued by the government (a party who actually is responsible to provide such regulations database to public). Ortax.org does the same thing but they focus on taxation area.
The efforts like those 2 (two) web portals should be disseminated and prioritized to some areas which are critical for Indonesian development, for instances: knowledge database for small medium enterprises (SME), knowledge database for English learning, knowledge database for Democracy Improvement, knowledge database for Law Awareness, etc. Those entire databases which are considered important can be developed through “checklist” format which ease Indonesia to understand it.

Initiatives to Establish Community Libraries
This is not a new idea. Before this article, many people had already been touched to help unfortunate people through establishing public libraries by their own resources (to say that it is non-government initiatives). This initiative doesn’t need a huge cost actually, with only tens of books and no need of specific room, the public library can be established and located at garage, home porch or public hall. Of course the public library will be more realizable if the initiative is executed by the neighborhood association (Rukun Tetangga/Rukun Warga) and becomes the community’s project. If there is a public library in each residence, we believe that kids who live in or around the residence will be more facilitated to obtain the useful knowledge. ***end***