Category Archives: Audit Internal

Fraud and Internal Auditor

Advertisements
Tagged , , ,

Auditor Internal dan Strategi Ekspansi Perusahaan

Auditor Internal tidak jarang diidentikkan dengan hal-hal tentang SOP, pengendalian, dan pelaksanaan seperangkat aturan yang hendak diperiksa. Identifikasi itu benar, tetapi tidak sepenuhnya lengkap dalam menjelaskan peran audit internal.

Di atas semua lingkup aktivitas yang diambilnya, Auditor Internal sebenarnya hendak memastikan pencapaian tujuan perusahaan dapat terkelola dengan efektif dan efisien. Termasuk jika perusahaan sedang mengambil strategi ekspansi ke pasar-pasar berkembang, Auditor Internal harus memberikan masukan-masukan berharga terhadap potensi risiko, dan kelemahan-kelemahan yang harus diantisipasi oleh manajemen dalam pasar berkembang tersebut.

Tesco adalah perusahaan retailer terbesar di Inggris dengan memegang 30% pangsa pasar retailer. Sebagai perusahaan yang ambisiun, usaha Tesco untuk menumbuhbesarkan perusahaan tidak hanya berhenti dengan menguasai pasar Inggris saja. Tesco juga membuka toko-toko di luar negeri sehingga sampai tahun 2008 Tesco berada pada retailer ke-6 terbesar di dunia. Sampai tahun 2007, Tesco memiliki 1.988 toko di Inggris dan 1.271 toko lain yang tersebar di 13 negara di dunia.

Tentu saja selain Tesco, terdapat banyak perusahaan yang sudah berekspansi atau bahkan meninggalkan pasar domestiknya menuju pasar luar yang lebih menjanjikan. Bukti yang paling jelas didemonstrasikan oleh membanjirnya produk-produk asing di suatu negara, seperti produk-produk Cina yang membanjiri Indonesia, atau produk-produk teknologi Amerika Serikat (seperti Apple, Micrsosoft) dan Jepang (seperti Sony, Sharp) yang terjual melintas batas di berbagai negara.

Uniknya, ekspansi operasi ke pasar luar ini tidak hanya terjadi pada perusahaan-perusahaan penjual produk. Perusahaan-perusahaan penjual jasa juga sudah mulai menawarkan jasanya di pasar luar yang dipandang masih potensial. Sekarang ini, kantor akuntan asing juga sudah menjamur di Indonesia, seperti PricewaterhouseCoopers, Ernst and Young, KPMG, Delloitte, Mazars, dll. Keberadaan mereka di Indonesia adalah contoh bagaimana perusahaan jasa di dunia juga tertarik untuk ekpansi ke pasar lain.

Apa yang dilakukan Tesco, Apple, Microsoft, Sony, Sharp, dan berbagai kantor akuntan asing, adalah contoh bagaimana perusahaan-perusahaan juga mengincar pasar-pasar bertumbuh (emerging market). Dan fenomena ini akan terus berkembang seiring dengan sistem perekonomian dunia yang semakin terbuka dan mengglobal.

Auditor Internal harus memahami secara konseptual tentang emerging market, peluang dan risiko-risiko dalamnya, sehingga mereka mampu memberikan masukan bernilai bagi manajemen perusahaan yang hendak ekspansi ke pasar berkembang. (berlanjut pada tulisan ke-2)

Tagged ,

Menjauhi Lookism dalam Perusahaan

Beberapa penelitian sebelumnya sudah mengungkap temuan bahwa para pekerja dengan wajah yang lebih tampan atau cantik cenderung memiliki karier yang lebih baik di tempat kerjanya (seperti temuan Daniel S Hamermesh dalam buku “Beauty Pays” atau Mikki Hebl dan Juan Madera dalam Journal of Applied Phsycology) . Si tampan dan si cantik pula yang akan diprioritaskan mendapat jenis-jenis pekerjaan tertentu, seperti bagian pemasaran, penjualan, layanan pelanggan, atau fungsi-fungsi lain yang menuntut interaksi yang intens dengan pihak luar.

Tren dan fenomena ini berlangsung begitu saja layaknya sebuah kelaziman yang diterima oleh masyarakat umum. Dengan anggapan bahwa pelanggan akan lebih senang mendapatkan pelayanan dari pegawai yang “enak dilihat”, maka posisi ini pun menjadi hak orang-orang yang berwajah tampan/cantik.

Sampai kemudian seorang Ibu yang dianggap berwajah tidak beruntung mengagetkan masyarakat Amerika Serikat pada akhir tahun 2011 lalu. Shierly Ivey, 61 tahun, menggugat mantan atasannya di Departemen Urusan Konsumen dan Peraturan, Amerika Serikat, ke pengadilan atas tuduhan sikap diskriminatif di tempat kerja. Atasannya terlalu sering menghardiknya dengan kalimat “aku akan lebih menyukaimu jika kamu lebih cantik”.

Keberanian Shierly Ivey ini mengundang kemunculan gugatan-gugatan lain di Amerika Serikat untuk jenis kasus yang sama. “Lookism” demikian orang Amerika Serikat menyebutnya untuk tindakan diskriminatif karena perbedaan wajah.

Lookism” dianggap sebagai jenis diskrimanasi baru. Tetapi, perusahaan-perusahaan biasanya memiliki alasan yang juga meyakinkan untuk memutuskan calon pegawai (dengan wajah tampan/cantik) yang akan direkrutnya.

Perusahaan jasa, seperti konsultan-konsultan bisnis, memiliki dalih bahwa bisnis mereka akan sangat ditentukan oleh kepuasan pelanggan atas konsultan-konsultan yang mereka kirim. Kepuasan itu biasanya tidak melulu dipicu dari kompetensi tetapi juga penampilan konsultan yang membuat nyaman para kliennya.

Para tenaga penjual juga diyakini akan lebih sukses mendatangkan pelanggan bagi perusahaan jika mereka memiliki penampilan yang menarik. Karena perusahaan sangat berkepentingan dengan produktivitas tenaga penjualnya, maka memilih tenaga penjual yang tampan/cantik dianggap merupakan hak perusahaan, sebagai perpanjangan hak mereka untuk mendapatkan produktivitas yang lebih tinggi dari tenaga penjual.

Argumentasi yang dilontarkan di atas terkesan sangat kuat. Tetapi benarkah argumentasi ini bisa diterima?

Lagi-lagi, dengan argumentasi William H Shaw, dalam bukunya Ethics at Work: Basic Reading in Business Ethic (2003), kita dapat dengan menolak pendapat di atas. perusahaan selalu sulit menjawab pertanyaan “Produktivitas tingkat berapa yang ingin dicapai?”, “Produktivitas minimal atau optimal?”, “Bagaimana mengukur produktivitas optimal itu?”. Karena sulitnya mendefinisikan produktivitas optimal, dalam praktiknya, kontrak hubungan tenaga kerja hanya menyebutkan kinerja minimal, karena ini pendekatan yang paling mungkin untuk diambil.

Pertanyaannya, bagaimana jika yang tidak ganteng dan tidak cantik itu ternyata mampu memenuhi produktivitas minimal yang diminta atau bahkan melebihi produktivitas rekan-rekan kerja yang lainnya?. Jika itu terjadi, maka semua argumentasi pendukung lookism adalah angan-angan saja, yang sayangnya juga sangat diskriminatif.

Atas dasar inilah, memilih karyawan atas dasar kegantengan atau kecantikan seharusnya tidak bisa diterima dalam pertimbangan manajemen perusahaan yang sehat.

Gambar dari: http://beling.net/articles/about/Lookism

Tagged , ,

Dilema Etika: (Calon) Karyawan yang Sakit

Lulus dengan predikat cumlaude dari FHUI dan status sebagai Mantan Ketua BEM UI tidak lantas membuat Alif Fikri mudah mendapatkan pekerjaan. Sudah 1 tahun semenjak lulus kuliah, Alif Fikri masih terus berjuang mencari pekerjaan dalam bidang hukum yang dia inginkan.

Tes kesehatan yang terakhir dilakoninya menjadi tes ke-9 dalam seleksi rekrutmen pegawai di berbagai perusahaan dan kantor hukum. Hasil akhirnya selalu sama, Alif gagal melewati persyaratan kesehatan yang ditetapkan oleh perusahaan-perusahaan dan kantor hukum tersebut.

Alief lahir dan tumbuh di Kota Batulicin, sebuah kota kecil dan terpencil, di tengah belantara hutan Kalimantan Selatan. Lebatnya hutan dan padatnya rawa yang mengelilingi daerah Batulicin membuat kota ini menjadi sarang yang nyaman bagi nyamuk Anopheles, sang vektor parasit plasmodium pemicu sakit malaria. Karena itulah, barangkali tidak sulit untuk mengatakan bahwa sebagian besar penduduk kota ini pernah terserang penyakit malaria.

Malaria yang pernah menyerang saat dia masih duduk di bangku sekolah dasar ternyata memberikan nestapa yang berkepanjangan bagi Alif. Perusahaan-perusahaan dan kantor hukum yang Alif inginkan tidak menghendaki pegawai yang teridentifikasi pernah atau sedang mengidap penyakit menular seperti Malaria,TBC, dan HIV/AIDS.

Kesimpulan dokter atas hasil eksaminasi Alif sebenarnya cukup profesional. Para dokter merekomendasikan bahwa Alif tetap bisa bekerja dengan tetap memperhatikan kesehatan tubuh dan harus menjalani medical check up secara rutin. Secara medis, penularan parasit malaria dapat dicegah jika penderita melakukan pengobatan secara efektif atau mantan penderita menjaga kesehatan tubuhnya secara rutin. Ditambah dengan lingkungan kantor yang terjaga bersih, maka penularan malaria seharusnya akan sulit terjadi.

Tetapi rekomendasi yang bijak ini tetap tidak mampu mampu menolong Alif untuk mempengaruhi kebijaksanaan panitia rekrutmen perusahaan-perusahaan tersebut. Para panitia rekrutmen memiliki alasan yang sama. Pegawai yang sedang atau pernah mengidap penyakit menular, seperti Malaria ini, memiliki potensi tinggi menularkan penyakit kepada rekan kerja dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Karyawan yang mengidap sakit juga dianggap akan gagal memberikan kinerja terbaiknya bagi perusahaan.

Kisah Alif di atas hanyalah ilustrasi saja. Tetapi saya sangat yakin cerita Alif ini adalah kenyataan yang berulang-ulang terjadi dalam masyarakat kita.

William H Shaw, dalam bukunya Ethics at Work: Basic Reading in Business Ethic (2003), mencoba mendudukkan dilema yang banyak dihadapi perusahaan dan calon karyawan seperti Alif di atas. Menurutnya, Hubungan Pemberi kerja dan Pekerja adalah hubungan kontraktual. Karena, bersifat kontraktual, masing-masing pihak berkewajiban memenuhi kepentingan ekonomis pihak lainnya.

Menurut William, argumentasi bahwa sakit menurunkan produktivitas adalah argumentasi yang sulit diterima. Pada kenyatannya, perusahaan selalu sulit menjawab pertanyaan “Produktivitas tingkat berapa yang ingin dicapai?”, “Produktivitas minimal atau optimal?”, “Bagaimana mengukur produktivitas optimal itu?”.

Karena sulitnya mendefinisikan produktivitas optimal, dalam praktiknya, kontrak hubungan tenaga kerja hanya menyebutkan kinerja minimal, karena ini pendekatan yang paling mungkin untuk diambil. Pertanyaannya, bagaimana jika si sakit itu masih mampu memenuhi produktivitas minimal yang diminta?.

Dengan argumentasi ini, menolak calon karyawan karena alasan sakit adalah tindakan yang tidak diterima secara etis. Pada akhirnya, William H Shaw mengatakan bahwa karyawan dapat “dihukum” karena tidak memenuhi produktivitas yang diminta (sesuai perjanjian kerja), tetapi itu seharusnya bukan karena status kesehatannya.

Alasan bahwa si sakit akan mengganggu orang-orang disekitarnya adalah alasan yang cukup kuat untuk diyakini. Tetapi William H Saw kembali mengingatkan bahwa alasan itu bisa diterima jika sakit itu memang benar-benar akan mendatangkan gangguan. Pada kasus Alif di atas, pernyataan profesional dokter bahwa sakit yang diderita Alif itu bisa diobati dan tidak menggangu lingkungan sekitarnya adalah informasi yang harus menjadi pertimbangan perusahaan.

Manajemen perusahaan dan perusahaan itu sendiri adalah bagian dari masyarakat. Bersikap adil dan etis terhadap lingkungan adalah cara terbaik menjaga keharmonisan kehidupan, sehingga kita bisa berharap kepada kehidupan yang sustainable bagi kita dan anak-cucu kita.

Tagged ,