Menyambut INPRES Penghematan APBN

Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) akan membentuk tim evaluasi anggaran belanja negara untuk menilai adanya kemungkinan anggaran-anggaran negara yang sebenarnya tidak diperlukan sehingga dapat dihilangkan untuk penghematan. Hasil evaluasi akan menjadi dasar Instruksi Presiden (INPRES) untuk pelaksanaan penghematan anggaran negara tahun 2011. Inisiatif ini beliau sampaikan dalam Rapat Kabinet Terbatas Bidang Polhukam tentang peningkatan akuntabilitas dan efektifitas pemerindah daerah, Kamis, 7 Oktober 2010 yang lalu.

Inisiatif yang patut kita sambut dengan baik walaupun datang agak terlambat mengingat ini adalah periode pemerintahan yang ke-2 bagi Presiden SBY. Inisiatif ini seharusnya digagas dari awal karena strategi penghematan (baca: efisiensi) anggaran adalah strategi yang penting dan sudah jamak dilakukan oleh berbagai organisasi untuk mencapai kesuksesan mereka.

Sesaat setelah dilantik menjadi Presiden Prancis pada tahun 2007, Nicolas Sarkozy segera mengumumkan sebuah program reformasi untuk menurunkan jumlah pengeluaran negara (Francois Bouvard, dkk; artikel The Case for Government Reform Now; McKinsey Quarterly; web diakses 21 April 2010). Tujuan Presiden Sarkozy adalah untuk melayani rakyat secara lebih baik dengan pengeluaran yang lebih efisien. Program ini berhasil menetapkan 370 inisiatif untuk untuk mewujudkan target, termasuk diantaranya adalah perbaikan metode manajemen pelayanan pemerintah, pengembangan teknologi informasi dan pengembangan organisasi berbasis kinerja.

Memang, penghematan anggaran negara ini menjadi mendesak karena ragam kebutuhan negara semakin bertambah, sedangkan pada saat yang sama penerimaan negara masih belum mampu mengimbanginya. Fakta ini dapat dilihat pada pilihan Defisit APBN yang diambil pemerintah untuk menutup kekurangan dana dengan meminjam dana atau berutang dari pihak lain.

Sedangkan keputusan pemerintah berupa defisit anggaran membawa risiko yang tidak sedikit. Defisit anggaran dalam sebuah negara bisa menghasilkan kekacauan ekonomi dan sosial jika tidak mampu dikelola dengan baik oleh pemerintah, antara lain peningkatan suku bunga dalam negeri, inflasi, penurunan nilai tukar rupiah dan pengangguran (Kunarjo, “Defisit Anggaran”, 2001).

Berangkat dari keterbatasan dana negara dan adanya risiko defisit anggaran ini, maka pilihan untuk strategi efisiensi anggaran adalah pilihan yang lebih jitu menjawab kebutuhan negara.

Kabar baiknya, Tim Evaluasi Presiden SBY ini nantinya tidak perlu berangkat dari pemahaman yang kosong. Faktanya, inisiatif efisiensi ini juga telah banyak berkembang di sektor industri karena kelangkaan sumber daya juga dihadapi oleh perusahaan-perusahaan dalam berbagai industri, seperti keadaan kekurangan dana, lemahnya sumber daya manusia dan rendahnya kapasitas produksi.

Salah satu pembahasan yang baik mengenai keberhasilan inisiatif efisiensi ini ditulis oleh Jason Jennings dalam bukunya “Less is More; How Great Companies Use Productivity as a Competitive Tool in Business”. Beberapa perusahaan, yang menjadi sampel penelitiannya, ternyata berhasil menjadi besar “cukup” dengan mereka meningkatkan produktivitas perusahaan, yaitu menghasilkan output yang lebih besar dengan sumber daya yang ada saja (kita sebut efisiensi). Oleh karenanya, dia memberi judul bukunya “Less is More”.

Semua paparan Jennings bisa menjadi tamparan yang keras bagi pemerintah, bahwa dalam penyelesaian masalah-masalah, pendekatan yang dilakukan tidak harus selalu dengan proyek-proyek bernilai besar sebagaimana yang seringkali pemerintah praktikkan.

Selain Jennings, terdapat pula gagasan Toyota dan General Electric yang juga menekankan efisiensi perusahaan untuk mencapai keberhasilan perusahaan mereka. Perusahaan dan Pemerintah tentu saja berbeda, tetapi mengambil pelajaran dari keberhasilan industri mengelola keterbatasan sumber daya-nya bisa memberikan inspirasi yang mencerahkan.

Belajar dari perkembangan strategi efisiensi dalam industri, maka inisiatif Presiden SBY dapat ditindaklanjuti dengan tiga prinsip evaluasi anggaran sebagai berikut: Pertama,Fokus Pada Tujuan; yaitu anggaran dan kinerja pemerintah harus selalu didasarkan pada tujuan pelayanan rakyat. Pada faktanya, seringkali fungsi-fungsi dalam pemerintahan tidak memberi nilai tambah bagi pelayanan kecuali justru meningkatkan biaya dan keruwetan birokrasi bagi rakyat. Dengan prinsip ini, restrukturisasi organisasi dan revitalisasi prosedur birokrasi mungkin akan diperlukan.

Kedua, Bersifat Kreatif tetapi Sederhana; Program pemerintah untuk penyelesaian masalah harus selalu didasarkan dengan pendekatan yang kreatif dan sederhana. Pemanfaatan teknologi informasi bisa menjadi suatu strategi yang kreatif dan sederhana. Di Singapura, Ijin ekspor, dapat ditingkatkan kualitas dan kecepatannya dengan pemanfaatan E-Government. Iin ekspor yang sebelumnya harus melalui 21 formulir danktu 3 minggu, dapat dipangkas hanya dengan 1 formulir dan disetujui dalam 15 detik saja. Inisiatif ini mampu memotong biaya pemerintah lebih dari 25% (Gassan Al-Kibsi, dkk, artikel “Putting Citizens On-Line, Not In Line”, McKinsey Quarterly, web diakses 21 April 2001).

Ketiga, Membangun Kesempurnaan; Setiap kerusakan adalah biaya, itu berlaku juga dalam pengelolaan pemerintahan. Contoh paling nyata dalam prinsip ini adalah bagaimana menyempurnakan pekerjaan infrastruktur, seperti jalan dan jembatan, agar awet atau tidak mudah rusak. Setiap kerusakan yang terjadi akan memunculkan tambahan biaya yang harus dikeluarkan oleh pemerintah, termasuk juga biaya sosial yang mungkin muncul dari kerusakan tersebut.

Kita menunggu kesungguhan presiden dalam menghemat anggaran negara yang notabene sekitar 70% nya adalah uang hasil penyetoran pajak rakyat, dan kemudian mengalokasikan dana yang ada benar-benar kepada kebutuhan yang tepat sasaran.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: