Mengantisipasi Deindustrialisasi

Evaluasi atas perekonomian Indonesia tahun 2010 menunjukkan data yang cukup meyakinkan. Data resmi yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS, Data Semester 1, 2010) menunjukkan pertumbuhan Pendapatan Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,9%; dengan kontribusi terbesar masih diberikan oleh produksi dari industri pengolahan, yaitu sekitar 25% dari PDB Indonesia.

Meskipun hasil perekonomian tahun 2010 menunjukkan peningkatan yang cukup baik, pemerintah seharusnya tidak cepat berbangga dan berpuas diri. Kekhawatiran atas gagalnya perekonomian Indonesia di masa depan masih mengancam. Data BPS menunjukkan adanya tren penurunan kontribusi industri pengolahan terhadap PDB pada periode 2006-2010, dengan rata-rata penurunan sebesar 0.6%. Padahal, industri pengolahan menjadi tulang punggung PDB yang seharusnya kinerjanya terus meningkat dari tahun ke tahun.

Di berbagai negara maju, seperti Amerika Serikat, Jepang dan Kanada, industri pengolahan menjadi perhatian yang serius karena juga merupakan tulang punggung perekonomian mereka. Karena itulah, negara-negara maju sering disebut juga sebagai “negara industri”. Mengambil definisi yang disusun Alfred D. Chandler, Jr, pakar sejarah bisnis Amerika Serikat (Strategy and Structure, 1969)), industri disini adalah industri yang mengolah bahan baku menjadi produk jadi, dengan menghasilkan nilai tambah produk yang signifikan.

Tren menurunnya kontribusi industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah salah satu gejala terjadinya fenomena “deindustrialisasi” di Indonesia.

Lebih sedihnya, selain tren industri pengolahan yang menurun, kekhawatiran akan masa depan perekonomian Indonesia didukung pula dengan fakta lain. Kontribusi industri pengolahan terhadap PDB juga lebih banyak didominasi oleh produksi dari perusahaan-perusahaan berskala besar dan menengah, yang jumlahnya hanya 0.09% (kurang dari 1%) dari keseluruhan unit usaha di Indonesia (Data Kementerian KUKM). Dalam bahasa yang disederhanakan, 1% unit usaha menyumbang 25% produksi Indonesia.

Data di atas menunjukkan adanya ketergantungan perekonomian Indonesia terhadap perusahaan-perusahaan besar. Padahal, dengan belajar dari Negara Finlandia, mereka mengalami tekanan ekonomi yang berat pada krisis keuangan 2008, karena ketergantungan pendapatan negara dari perusahaan besar yang beroperasi di pasar global, seperti Nokia, produsen telepon seluler terkemuka itu (Council of European Municipalities and Regions (CEMR), 2009).

Dengan gambaran perekonomian Indonesia yang masih rentan kegagalan di masa yang akan datang, maka salah satu pekerjaan rumah pemerintah Indonesia saat ini adalah mendorong pertumbuhan industri pengolahan. Selain kebijakan pro-industri, salah satu cara untuk mendukung pertumbuhan tersebut adalah dengan mendorong kemunculan usahawan-usahawan baru dalam industri ini. Dalam hal ini, pemerintah dituntut untuk merumuskan kebijakan yang tepat bagi kemunculan usahawan baru dalam industri pengolahan.

Menyuburkan Pengusaha Baru

Industri pengolahan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan industri lain, misalnya jika dibanding dengan sektor perdagangan atau sektor ekstraksi sumber daya alam. Salah satunya adalah adanya penciptaan nilai tambah yang signifikan dari input yang diproses sampai menjadi output yang siap dipasarkan. Pada zaman kekinian, industri pengolahan juga sangat bergantung kepada penerapan teknologi maju, yang kemudian menentukan pula perbedaan nilai tambah yang dimiliki masing-masing produk hasil industri pengolahan tersebut.

Dengan profil umum di atas, maka karakteristik industri pengolahan era kekinian dirumuskan sebagai industri yang berbasis pengetahuan dan/atau ketrampilan. Sehingga, program pendidikan, pelatihan dan/atau pengalaman kerja yang pernah dimiliki adalah komponen yang sangat penting bagi seseorang untuk mendirikan usaha baru dalam industri pengolahan.

Ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Riccardo Fini (2009) atas 200 pengusaha pendiri 133 perusahaan berbasis teknologi di Italia,  dimana para wirausahawan tersebut diidentifikasi memiliki kompetensi teknis sejak awal untuk membangun usaha berbasis teknologi. Kompetensi teknis ini bisa didapat dari pendidikan atau pengalaman kerja sebelumnya.

Pemerintah jangan sampai kehilangan arah, kemunculan usahawan baru berbasis industri pengolahan tidak muncul dari pelatihan-pelatihan atau kursus mengenai kewirausahaan. Dengan analisa di atas, maka yang mendorong kemunculan usaha baru dalam industri pengolahan sebenarnya adalah pendidikan, pelatihan dan/atau pengalaman yang menghasilkan ketrampilan atau pengetahuan dalam mengolah atau menciptakan sesuatu produk/jasa. Dari analisa ini, kebijakan pemerintah yang difokuskan pada sekolah-sekolah kejuruan atau fakultas-fakultas berbasis teknologi diyakini akan mendorong pertumbuhan industri pengolahan di Indonesia.

Lebih lanjut, dengan ketergantungan terhadap kompetensi teknis dan teknologi, maka para pengusaha baru dalam industri pengolahan juga digambarkan sebagai orang-orang yang masih muda, ini tidak terlepas dari karakteristik dari industri ini yang mengedepankan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta yang biasanya masih tumbuh subur dalam keinginan dan pikiran orang-orang muda.

Profil pengusaha muda digambarkan sebagai orang-orang yang masih lemah dalam akses permodalan dan jaringan pemasaran produk. Kelemahan-kelemahan ini bisa membatalkan keinginan untuk berwirausaha atau menggagalkan kemunculan perusahaan pengolahan baru. Oleh karena itu, dukungan pemerintah untuk mengatasi dua masalah ini diyakini juga akan memperkuat dan mendukung kemunculan perusahaan-perusahaan baru dalam industri pengolahan.

Pada akhirnya, setelah menyadari pentingnya industri pengolahan bagi perekonomian Indonesia, pemerintah harus mencegah terjadinya deindustrialisasi. Salah satunya, pemerintah harus mulai fokus menggarap kemunculan usahawan baru dengan kebijakan dan program yang lebih efektif. ***

Advertisements
Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: