Menjauhi Lookism dalam Perusahaan

Beberapa penelitian sebelumnya sudah mengungkap temuan bahwa para pekerja dengan wajah yang lebih tampan atau cantik cenderung memiliki karier yang lebih baik di tempat kerjanya (seperti temuan Daniel S Hamermesh dalam buku “Beauty Pays” atau Mikki Hebl dan Juan Madera dalam Journal of Applied Phsycology) . Si tampan dan si cantik pula yang akan diprioritaskan mendapat jenis-jenis pekerjaan tertentu, seperti bagian pemasaran, penjualan, layanan pelanggan, atau fungsi-fungsi lain yang menuntut interaksi yang intens dengan pihak luar.

Tren dan fenomena ini berlangsung begitu saja layaknya sebuah kelaziman yang diterima oleh masyarakat umum. Dengan anggapan bahwa pelanggan akan lebih senang mendapatkan pelayanan dari pegawai yang “enak dilihat”, maka posisi ini pun menjadi hak orang-orang yang berwajah tampan/cantik.

Sampai kemudian seorang Ibu yang dianggap berwajah tidak beruntung mengagetkan masyarakat Amerika Serikat pada akhir tahun 2011 lalu. Shierly Ivey, 61 tahun, menggugat mantan atasannya di Departemen Urusan Konsumen dan Peraturan, Amerika Serikat, ke pengadilan atas tuduhan sikap diskriminatif di tempat kerja. Atasannya terlalu sering menghardiknya dengan kalimat “aku akan lebih menyukaimu jika kamu lebih cantik”.

Keberanian Shierly Ivey ini mengundang kemunculan gugatan-gugatan lain di Amerika Serikat untuk jenis kasus yang sama. “Lookism” demikian orang Amerika Serikat menyebutnya untuk tindakan diskriminatif karena perbedaan wajah.

Lookism” dianggap sebagai jenis diskrimanasi baru. Tetapi, perusahaan-perusahaan biasanya memiliki alasan yang juga meyakinkan untuk memutuskan calon pegawai (dengan wajah tampan/cantik) yang akan direkrutnya.

Perusahaan jasa, seperti konsultan-konsultan bisnis, memiliki dalih bahwa bisnis mereka akan sangat ditentukan oleh kepuasan pelanggan atas konsultan-konsultan yang mereka kirim. Kepuasan itu biasanya tidak melulu dipicu dari kompetensi tetapi juga penampilan konsultan yang membuat nyaman para kliennya.

Para tenaga penjual juga diyakini akan lebih sukses mendatangkan pelanggan bagi perusahaan jika mereka memiliki penampilan yang menarik. Karena perusahaan sangat berkepentingan dengan produktivitas tenaga penjualnya, maka memilih tenaga penjual yang tampan/cantik dianggap merupakan hak perusahaan, sebagai perpanjangan hak mereka untuk mendapatkan produktivitas yang lebih tinggi dari tenaga penjual.

Argumentasi yang dilontarkan di atas terkesan sangat kuat. Tetapi benarkah argumentasi ini bisa diterima?

Lagi-lagi, dengan argumentasi William H Shaw, dalam bukunya Ethics at Work: Basic Reading in Business Ethic (2003), kita dapat dengan menolak pendapat di atas. perusahaan selalu sulit menjawab pertanyaan “Produktivitas tingkat berapa yang ingin dicapai?”, “Produktivitas minimal atau optimal?”, “Bagaimana mengukur produktivitas optimal itu?”. Karena sulitnya mendefinisikan produktivitas optimal, dalam praktiknya, kontrak hubungan tenaga kerja hanya menyebutkan kinerja minimal, karena ini pendekatan yang paling mungkin untuk diambil.

Pertanyaannya, bagaimana jika yang tidak ganteng dan tidak cantik itu ternyata mampu memenuhi produktivitas minimal yang diminta atau bahkan melebihi produktivitas rekan-rekan kerja yang lainnya?. Jika itu terjadi, maka semua argumentasi pendukung lookism adalah angan-angan saja, yang sayangnya juga sangat diskriminatif.

Atas dasar inilah, memilih karyawan atas dasar kegantengan atau kecantikan seharusnya tidak bisa diterima dalam pertimbangan manajemen perusahaan yang sehat.

Gambar dari: http://beling.net/articles/about/Lookism

Advertisements
Tagged , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: